Semalam saya menangis hiba, teresak-esak, sehingga tersedu-sedu..Betapa saya kehilangan kewarasan dan pertimbangan rentetan emosi yang tidak berapa stabil beberapa minggu kebelakangan ini. Selama berminggu juga puas saya berzikir, cuba mengingati ujian emosi apakah yang sedang Allah pesan kepada Malaikat Jibril A.S. untuk dicampakkan ke dalam relung hati ini. Sudah berminggu juga saya merasakan ketidaktenangan di jiwa ini. Tidak sampaikah zikir dan doa yang selalu saya panjatkan pada Ilahi..? Apakah yang menghijab doa saya dari terus sampai kepada Ilahi...Dosakah? Apakah tidak cukup saya berzikir, memohon ketenangan jiwa...? Buntu.
Semalam kemuncak segala pergolakan perasaan yang selalu berputar-putar, membelit jiwa saya. Ia berakhir dengan tangisan, teriakan. Serasa seperti tiada siapa yang ingin mendengar apa yang saya rasa..Adilkah dunia melayan saya begini?. Putus asa. Tiada pengharapan untuk meneruskan hidup. Menangis hingga mata menjadi bengkak dan merah. Lama saya bermenung panjang. Merenung langit yang biru. Tapi hati tetap menangis. Rasa menjauh. Tapi kenapa hati ini masih tidak tenang..? Bingung.
Tapi saya terlupa, dalam kekalutan hati saya sibuk bermonolog sendiri, seorang insan hadir, menghentikan tangisan saya. Berbicara dengan saya seketika, mengahambat rasa sedih yang bertamu. Saya sudah mampu tersenyum. Sedikit terubat sakit di hati. Tapi saya masih tidak sedar...
Hari ini, baru saya tersedar,ketika azan berkumandang, saya hadirkan diri, menghadap Ilahi. Ketika sujud, baru saya teringat, Allah masih lagi ingin menunjukkan kepada saya, walau saya menangis menghiba, Allah hadirkan seorang insan untuk menghiburkan hati ini..Dia yang tak pernah lupakan saya walau sesaat. Saya malu mengingatkan semula keadaan saya yang menangis hiba, teresak-esak, tersedu-sedu. Walhal, Allah sedang melihat saya.. Ya Allah..saya benar-benar malu. Malu kerana bersikap kebudak-budakan di hadapan Dia, dan yang paling membuatkan hati saya terharu..Dia masih lagi cuba menghiburkan hati saya.. Terima kasih ya Allah..
